Tampilkan postingan dengan label Cerita Pendek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Pendek. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 Oktober 2011

KRAYON FARIS HILANG LAGI


KRAYON FARIS HILANG LAGI

 “Mmmaaahhh...” dipeluknya pinggang mama. Mama yang sedang memasak kontan saja terkejut, karena tidak menyadari kedatangan anak semata wayangnya itu. “Mah, beli krayon dan buku gambar...” pinta Faris. “Eh, anak mamah, pulang sekolah bukannya memberi salam kok malah minta krayon. Cepat ganti baju dulu, cuci muka lalu kita makan bersama! Mamah sudah masak kesukaan kamu.” Saat mengetahui mama sedang memasak makanan kesukaannya, Faris pun segera berlari ke kamar untuk ganti baju dan melupakan keinginannya itu. Hari ini memang hari yang cukup melelahkan bagi Faris, karena hari ini dia dites lari pada pelajaran olahraga.
            Malam hari saat Faris sedang berkumpul dengan orang tuanya di ruang tv, Faris kembali meminta krayon dan buku gambar.
“Mah, Faris mau krayon dan buku gambar...” pinta Faris dengan memelas,
“Faris, dua minggu yang lalu ‘kan Mama sudah membelikan kamu krayon dan buku gambar satu pack. Koq sudah habis? Kan pelajaran menggambar tidak setiap hari?”
“Krayonnya hilang, Mah. Tidak tahu kemana.”
“Lalu semua buku gambar kamu juga hilang?! Kamu ini ada-ada saja.” kata mama marah.
Mamah pun tidak mengabulkan permintaan Faris. Mamah merasa heran dengan tingkah laku Faris akhir-akhir ini. Dia sering sekali kehilangan barang-barangnya di sekolah. Bukan hanya krayon dan buku gambar, tetapi sebelumnya pun Faris pernah kehilangan tempat pensil yang baru dibelikan Papa dari Singapura, serta beberapa perlengkapan sekolah lainnya.
            Karena setiap hari Faris merengek meminta krayon dan buku gambar, akhirnya mama pun menyerah juga dan membelikan sekotak krayon dan buku gambar satu pack lagi. “Hati-hati, jangan sampai hilang lagi ya!” mama mengingatkan. “Iya, Ma. Terima kasih ya, Ma...” Faris terlihat senang.
Beberapa hari kemudian, Faris menghampiri mama yang sedang menyiram tanaman hias di halaman belakang.
“Ma, besok kan ada pelajaran menggambar, Faris mau beli pensil warna dong, Ma,” Faris membujuk mama.
“Kenapa tidak pake krayon yang kemarin saja? Kan belum habis,” jawab sang mama.
“Anu...begini, Mah. Krayon Faris kemarin ketinggalan di sekolah, terus hilang sekarang,”
“Ya ampun Faris...krayon itu sudah hilang lagi!” mama tampak sangat kesal kepada Faris karena sudah menghilangkan lagi krayonnya.
            Keesokan harinya, tanpa sepengetahuan Faris, mama menemui Bu Rini di sekolah. Bu Rini adalah guru sekaligus wali kelas Faris. Mama menceritakan tentang barang-barang Faris yang sering hilang di sekolah. Bu Rini pun mendengarkan dengan tenang dan seksama. “Jadi, begitu Bu Rini. Apakah siswa lain juga sering kehilangan seperti ini?” pertanyaan tersebut mengakhiri cerita mama. “Maaf, Bu. Baik Faris maupun siswa-siswa yang lain tidak pernah ada yang melapor pada saya tentang kehilangan barang-barang. Malah, akhir-akhir ini saya sering melihat Faris meminjam alat tulis pada teman-temannya,” Bu Rini mencoba menjelaskan. “Oh iya, saya baru ingat, Bu. Saya beberapa kali pernah memergoki Faris sedang dikerumuni oleh anak-anak pemulung di kampung dekat sekolah ini, Bu. Mungkin saja ada hubungannya.”
            Mendengar penjelasan Bu Rini, mama memutuskan untuk menjemput Faris dari sekolah setiap hari agar tidak diganggu oleh anak-anak pemulung tersebut. Keesokan harinya, mulailah Faris diantar-jemput oleh sang mama. Satu bulan Faris diantar-jemput oleh mama, dan selama itu pula ia tak pernah kehilangan krayon dan barang-barang lainnya. Mama pun merasa lega dengan keadaan Faris sekarang.
            Suatu siang saat menjemput di sekolah, mama tidak menemukan Faris di sekolah. Biasanya dia menunggu di depan gerbang sekolah. Mama pun bertanya kepada penjaga sekolah. Penjaga sekolah mengatakan bahwa Faris tadi berjalan ke arah perkampungan kumuh dekat sekolah. Mama pun kaget dan langsung menyusul ke perkampungan.
Setelah melewati gang-gang yang sempit dan kumuh, tibalah mama di tanah lapang. Di sebarang lapangan, mama melihat Faris sedang duduk-duduk di bawah pohon bersama beberapa anak kampung. Mama pun segera menghampiri kerumunan anak-anak tersebut karena takut terjadi sesuatu yang buruk dengan Faris.
Sesampainya dikerumunan, mama terkejut melihat apa yang sedang terjadi. Ternyata Faris sedang belajar dengan anak-anak kampung tersebut. Melihat mama berdiri di sampingnya, Faris hanya tersenyum. Mama pun memeluknya.”Sekarang mama mengerti kenapa krayon dan buku-buku kamu selalu hilang,” mama merasa terharu dan bangga dengan Faris. Walaupun masih kelas 5 SD, Faris sudah memiliki jiwa sosial yang tinggi. Dia memberikan krayon, buku, pensil dan perlengkapan sekolah lainnya untuk teman-teman yang tidak mampu, dan membantu mereka belajar. 

PLAY STATION-KU


PLAY STATION-KU

            “Guuunn...Guunn...Gugun...!!!” mama terus memanggil-manggil, tapi tidak ada jawaban dari Gugun. Mama pun menghampiri kamar Gugun, kemudian membuka pintu kamar tersebut. Dilihatnya Gugun sedang asyik main PS. Mama hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Sejak pulang sekolah tadi siang, Gugun langsung mengurung diri di kamar.
“Ya ampun, Gugun! Mama kira kamu sedang apa!” kata mama kesal. Gugun hanya tertawa kecil. Matanya tidak sedikit pun berpaling dari layar tv. Mamah hanya bisa menghela napas. Mama bermaksud meminta Gugun untuk menjaga adiknya, Didit, karena sore itu mama harus pergi.  “Mama akan pulang nanti malam, kamu tolong jaga Didit! Dia masih tidur sekarang di kamarnya.”
Saat Gugun asyik main PS, ternyata Didit terbangun. Ia mencari-cari sosok mama. “Ma...Mama...Ma...Mama...!” Didit terus memanggil mama. Kemudian dia mencari di kamar mama dan dapur, namun tidak ditemukan juga sang mama. Setengah putus asa, dia pun masuk ke kamar Gugun.
“Ka, mama mana? Kok tidak ada...” tanya Didit pada Gugun. Gugun tidak menjawab pertanyaan Didit karena terlalu asyik dengan PS-nya. Karena pertanyaan-pertanyaan Didit tidak dijawab oleh kakaknya, ia pun mulai menangis. Tangisannya sangat keras hingga menggema di kamar tersebut. Bukannya menghibur Didit, Gugun malah memarahinya. Gugun sangat terganggu dengan tangisan adiknya yang lebih keras dari suara PS. “Sudah diam! Sebentar lagi juga mama pulang...”
Merasa tidak dipedulikan oleh kakaknya, Didit memutuskan untuk mencari mama sendirian. Walaupun sudah keluar kamar, tangisan Didit masih terdengar jelas di kamar Gugun. Gugun mengacuhkannya, dia pikir Didit hanya akan menonton tv di ruang tengah. Beberapa menit kemudian, Gugun keluar kamar untuk mengambil air minum di dapur. Saat melewati ruang tengah, ia terheran-heran karena tidak menemukan Didit di sana. Tv pun tidak menyala. Itu berarti Didit tidak menonton tv dari tadi, pikir Gugun dalam hati.
Dengan segera Gugun memeriksa seluruh ruangan di rumahnya, tapi Didit tetap tidak ada. Kemudian, dia menuju pintu depan dan mencari Didit di halaman, tetapi belum juga dapat ditemukan. Wajah Gugun kemudian menjadi pucat saat mengetahui pintu gerbang rumahnya terbuka. Pasti tadi Didit keluar, karena pintu gerbang tidak ditutup kembali, pikir Gugun. Tanpa pikir panjang, Gugun langsung berlari keluar untuk mencari Didit.
Matahari sudah hampir tenggelam, Gugun pun memutuskan untuk pulang. Gugun sudah mengelilingi semua kompleks rumahnya. Dia sudah bertanya pada tetangganya atau orang-orang yang kebetulan lewat, tetapi tak seorang pun melihat Didit. Hatinya ingin menangis. Sesampainya di rumah, dia segera menuju kamarnya. Bagaimana mungkin dia bisa kehilangan adiknya gara-gara terlalu asyik main PS? Apa yang harus dikatakan pada mama kalau adiknya sekarang hilang? Ada rasa takut, menyesal, dan sedih dalam hati Gugun.
Tak lama kemudian, terdengarlah pintu depan yang dibuka. “Guuguunnn...Didiiittt...!! Mama pulang neh!” mama memanggil kedua anaknya. Mendengar kedatangan mama, Gugun segera berlari menghampiri. Dipeluknya sang mama dengan erat, kemudian Gugun menangis sejadi-jadinya. Apa yang dilakukan Gugun tentu saja membuat mama bingung.
“Ada apa sayang? Didit sudah bangun belum?” tanya mama
“Mmaa..mmaa..aaff...kan Gugun, Ma. Dii..ddiittt...dii..ddiitt...hilang, Ma,” dengan terbata-bata Gugun mengatakan hal yang sebenarnya terjadi.
“Taa..taa..ttaaddii..Didit menangis mencari mama..tapi Gugun malah mengacuhkannya...terus dia pergi sendiri keluar...tapi Gugun sudah coba mencarinya, Ma..” Gugun tidak sanggup melihat wajah mama. Dia takut mama akan marah. Oleh karena itu, dia hanya bisa menunduk.“Gugun menyesal, Ma...maafkan Gugun...” lanjut Gugun sambil menangis.
            Dengan penuh kasih sayang mama memeluk Gugun. Kemudian, mama menghapus air mata Gugun dan berkata,”Kamu janji tidak akan mengulanginya lagi?” Gugun mengangguk.
“Kalau begitu sekarang kamu jemput Didit di rumah Irsan...”
“Sebenarnya mama sudah pulang sejak tadi, lalu ketemu Didit di depan jalan komplek...Didit bilang kalau kamu tidak mau mengantarnya dan malah mengacuhkannya..”
“Akhirnya mama sengaja berdiam dulu di rumah Irsan...sekarang kamu tahu kan akibatnya jika terlalu asyik main PS tanpa mempedulikan sekitarmu. Coba bayangkan jika tadi mama tidak ketemu dengan Didit!”
“Iya, Ma...Gugun minta maaf. Gugun berjanji tidak akan mengulanginya.” Gugun pun segera berlari keluar untuk menjemput Didit yang sedang bermain di rumah Irsan, tetangga sebelahnya.

Ditumbalkan Kota Raya


Ditumbalkan Kota Raya

Ia berjalan gontai menantang kuasa hari. Tangannya begitu kuat menggenggam nasib yang terselip di map cokelat. Kemeja tak lagi menampakkan kerapihan setrika atau pun wangi sekedar minyak murah, yang dipakainya nampak seperti kertas koran yang sudah dibaca bertahun lalu. Kemeja itu didapat dari lemari ayah yang ia bongkar sewaktu mencari uang secara diam-diam. Kenangan itu sering masuk ke dalam kepalanya lalu menerjang hati. Perih. Sebenarnya ayah dan ibu tidak setuju apabila ia harus pergi. Apalagi harus memboyong istri dan anak semata wayangnya.
“Pokoknya saya akan tetap membawa Sarifah dan Imam bersama saya” Juhaeri bersikukuh.
“Apa kamu tidak tahu kalau hidup di sana itu sulit. Kalian mau tinggal di mana? Bagaimana dengan sekolah Imam?” cegah ayahnya. Ibu Juhaeri hanya bisa memeluk menantu dan cucunya yang ketakutan. Mereka bertiga duduk di bale-bale bersebelahan dengan kedua laki-laki yang sedang dicengkram ego.
“Bapak, tidak usah khawatir. Saya sudah mengontrak satu buah rumah di sana. Kalau sekolah Imam kan bisa diurus nanti kalau sudah pindah.” melontarkan alasan-alasan, tak mau kalah.
“Lalu bagaimana dengan sawah? Siapa yang nanti akan merawat sawah, Nak? Kamu tahu sendiri kalau bapak sudah tua.” lelaki kurus berjanggut itu berusaha membangun tanggul di matanya. Ada yang akan jebol.
Di tengah malam, pertengkaran itu usai tanpa penyelesaian. Juhaeri tak goyah oleh kata-kata ayah atau wajah sendu ibunya. Begitu kiranya pendirian seorang laki-laki. Dan sekarang ia melangkah di atas reruntuhan sesuatu yang dulu ia sebut tekad. 
Jalanan kota seperti benang yang kusut dan tak putus-putusnya. Hasil pintalan tangan-tangan udik. Kini Juhaeri sudah terbiasa melihat semraut jalan, sudah kebal mendengar orang saling maki, bahkan otaknya sudah bisa mencerna per-arah-an. Di sebuah halte bus, Juhaeri duduk bersama angin. Mereka sama-sama lelah setelah berkeliling menawarkan tenaga. Ditengoknya kabar langit. Entah di mana awan-awan main petak umpat.
            Dipandanginya orang-orang yang lalu-lalang itu. Apa bedanya aku dengan mereka, pikir Juhaeri. Juhaeri harus tetap bertahan di sini. Kalau pulang ke rumah bapak, ia pasti akan merasa menang. Ia akan menertawai kekalahan Juhaeri menaklukkan kota ini. Pikiran itu masih sama ketika ia meninggalkan kampung. “Tapi apa yang harus saya lakukan sekarang? Mengapa saya tak seberuntung Ujang. Bagaimana bisa setiap lebaran, dia pulang kampung dengan bawaan yang bagus-bagus. Banyak pula.” hati kecil Juhaeri penuh tanya. Tapi apakah pertanyaan selalu mencari jawaban? Kedua telapak tangan ia cermati. Apa ada yang salah dengan garis tangannya? Mungkin sudah beribu Juhaeri yang duduk di halte itu. Mereka adalah orang-orang udik yang datang bermodalkan tekad dan angan-angan. Mereka kehilangan arah, karena baru menyadari kalau garis tangan mereka begitu rumit. Sesaat kemudian bus menuju arah pulang pun datang, Juhaeri langsung naik.
Setelah turun dari bus, Juhaeri langsung menuju sebuah gang sempit. Bus pun melaju kembali layaknya predator mencari mangsa di rimba raya. Ketika masuk mulut gang, Juhaeri terhentak kaget melihat anak-anak lari keluar gang. Berteriak. Mereka seperti anak-anak tikus yang sedang dikejar seekor kucing lapar. Anak-anak itu berlari sembari menengadahkan wajah mereka ke atas.  Mereka tidak saling beradu atau pun tersandung batu, kaki-kaki mereka seakan mempunyai mata. Keingintahuan hati Juhaeri membuatnya ikut menengadah, mencari tahu apa yang sebenarnya anak-anak itu kejar. “Oh, ternyata layangan putus.” Di antara gerombolan itu, ada satu anak yang ia hapal “Imam… Imam…”. Yang dipanggil hanya menoleh, tersenyum lalu berlari bersama angin. Bersama kegembiraan kanak-kanak.
“Kejar terus mimpimu, Nak, sampai dapat. Setelah itu terbangkan sampai tinggi.” Layangan adalah impian. Oleh karena itu muncul pepatah terbangkan mimpimu setinggi langit, agar Tuhan tahu dan mengabulkannya. Ia seolah tertelan ingatannya sendiri. Bersama teman-teman sekampung dulu, Juhaeri membuat sendiri layangan untuk aduan. Mereka sering bermain layangan di sawah yang halodo atau di lapangan bal pinggir hutan.
Setelah berjalan cukup lama menyusuri gang-gang tikus, sampai juga ia di rumah kontrakan yang nampak tidak kuat lagi menahan usia, pun menyaksikan penghuninya menanggung beban hidup.
“Ipah…, Ipah…” pintu terus diketuk.
“Iya, Kang tunggu sebentar… saya sedang mencuci baju di belakang” sesaat kemudian pintu dibuka. Dari dalam terlihat Sarifah mengenakan daster basah tak karuan dengan rambut diikat ke belakang. Busa putih terlihat nyempil di sela-sela jari kaki dan betis, juga sedikit di lengan dasternya.
Gimana Kang hari ini, dapat kerjanya?” ditanya seperti itu, Juhaeri hanya menggelengkan kepala. Sarifah tak banyak tanya lagi. Hatinya harus belajar bersabar.
Juhaeri langsung masuk kamar, mengganti pakaiannya dengan kaos oblong dan sarung. Kemudian mengarah ke dapur lalu masuk ke kamar mandi. Sarifah segera menyiapkan makanan untuk suami tercinta. Sesaat kemudian Juhaeri keluar dengan handuk di bahu. Rambutnya sedikit basah membuat wajah usang itu terlihat lebih segar dan cerah. Ia duduk menghadap makanan yang dimasak istrinya pagi tadi.
“Ipah, mana sayurnya? Kok cuma ada lauk asin dan sambel” suara tersebut langsung menggema ke telinga Sarifah. Sarifah bergegas hanya tersenyum.
“Aduh, Kang. Untuk hari ini itu saja dulu. Kalau beli sayur, besok kita tidak bisa beli beras. Simpanan Ipah sudah dipakai semua untuk ongkos Akang nyari kerja.” Sarifah berusaha tegar.
“Terus Imam sudah makan? Aku baru menyadari kalau Imam kurusan. Akang melihatnya tadi sedang bermain sama anak-anak.” Ia sadar kalau selama di kota ini, ia sibuk mencari lowongan kerja. Lupa akan anak kesayangannnya itu.
“Sudah Kang. Imam sudah makan. Hanya saja ia selalu mengeluh tentang lauk-pauknya. Setiap hari Ipah harus membujuknya agar mau makan.” keluh Sarifah.
Tanpa harus berkata, Juhaeri tahu dalam hati istrinya pasti sedih dan bingung. Ia pun harus tabah.
“Prioritas utama kita saat ini adalah Imam. Akang ridho tidak makan, asalkan ia makan.”
“Apa tidak sebaiknya kita pulang ke kampung saja Kang?”
Hati Juhaeri serasa ditampar. Makanan yang dari tadi dikunyahnya tiba-tiba saja terasa pahit. Tetapi ia telan juga rasa pahit itu. Ingin rasanya ia menyerah pada nasib dengan pulang kembali ke kampung, tetapi harga dirinya berkata tidak. Ia harus terus berjuang sampai nafas terakhir untuk kebahagiaan istri dan Imam, anaknya.
“Biaya sekolah di sini mahal. Harus beli ini-itu. Kemarin saja Imam disuruh beli cat air, katanya untuk pelajaran menggambar.” ada kesedihan di mata Sarifah.
“Sabar ya, Pah. Akang yakin, akang bisa mendapatkan uang. Akang yakin bisa membahagiakan kalian berdua. Hidup akang cuma untuk kalian. Tapi, jangan sekali lagi pinta akang untuk kembali lagi ke rumah bapak.” masih ada kesedihan di mata Sarifah.
“Tapi Kang...” banyak kesedihan yang akhirnya jatuh dari mata Sarifah. Ia tidak bisa melanjutkan perkataannya.
Suasana menjadi begitu sunyi. Geraman mobil di jalan raya serasa berhenti. Waktu memberikan mereka kesempatan untuk saling memahami diri. Makanan sudah berasa entah, Juhaeri menyudahi saja. Tapi dunia tak mengizinkan mereka berlama-lama. Seseorang mengetuk pintu depan. Begitu kasar. Begitu tergesa-gesa. Sarifah membereskan pipinya dari air kesedihan sambil berjalan menuju pintu.
 “Iya, tunggu sebentar.” pintu di buka. “Eh, pak Mardi. Maaf Pak, ada apa ya?” terisak-isak.
“Begini loh, Bu. Si Imam..., Imam, Bu..., Imam ketabrak mobil..., di jalan depan gang.” memburu nafas. Habis berlari.
“Akaaanggg..., Imam Kang.” Sarifah jatuh tertahan pak Mardi.
“Di mana sekarang Imam, Pak?” Juhaeri dari tadi nguping di belakang langsung datang.
“Di... anu...,” pak Mardi berusaha membaringkan Sarifah di bale-bale.
Ada yang mengatakan bahwa kota raya tak ubahnya rimba raya. Semua makhluk buas tinggal di sana. Bersarang di pencakar langit dan gedung hijau. Dan sekarang tanpa menunggu jawaban dari pak Mardi, Juhaeri berlari masuk ke rimba raya. Mencari anaknya yang ditumbalkan kota raya.
                                                                                                                        Bandung, 2008

Danau Cipanon


Danau Cipanon*

            Malam ini begitu hening. Memang, dalam keheningan seperti malam ini ia bisa mencapai keheningan hati. Jika sudah begitu ia akan merasa menyatu dengan Sang Hyang, pencipta langit dan bumi. Tidak lagi harus berpusing memikirkan duniawi. Untuk itu selalu ia berkelana menelusuri sungai, masuk hutan dan menanjaki bebukit yang jauh dari hiruk-pikuk manusia. Semua dilakukan dengan ikhlas hati.
            Banyak tempat yang telah ia lalui dan beberapa untuk disinggahi, namun di tempat ini ia merasa begitu dekat dengan Sang Hyang. Dalam hitungannya, ia telah singgah di sini selama dua purnama. Ia hapal betul dan tak mungkin salah, karena saat purnama tiba ia bisa melihat kekuasaan Sang Hyang. Tak pernah ia singgah di satu tempat dalam jangka waktu yang panjang. Dan malam ini merupakan purnama ketiga.
            Malam ini keyakinan untuk melihat keajaiban itu muncul kembali. Lama hatinya menunggu peristiwa sakral itu. Namun, tak ada yang terjadi sama sekali, hanya sekali-kali kalong lewat di hadapannya. Mata yang sudah renta itu melihat dengan seksama rumah-rumah di kaki bukit. Walaupun sudah renta, mata itu seperti masih balita karena sesungguhnya mata yang digunakan untuk melihat hal-hal baik akan selalu tajam.
            Angin bertiup dingin menembus kulit, menusuk rangka*. Jangkrik, tonggeret*, dan segala serangga seolah merayakan cahaya rembulan yang turun menyusuri lantai-lantai hutan, menciptakan suasana tentram. Jauh di dalam hutan terdengar ramai anjing-anjing yang melolong, melantunkan pepujian. Di bawah bukit, ada beberapa rumah dengan cahaya damar yang berpendar-pendar seperti kunang-kunang hinggap di pepucuk ilalang. Lalu tiba-tiba dari atap rumah-rumah itu sesuatu membumbung. Seperti asap. Begitu besar dan pekat. Cahaya rembulan yang purnama memperjelas rupa asap itu. Serupa kebakaran yang menghanguskan ladang, namun tak ada api di sana. Hanya beberapa damar yang berpendar tertiup angin. 
            Hatinya ingin bertanya. Tetapi pada siapa? Dirinya hanya seorang diri, duduk di atas batu besar. Matanya bulat tak berkedip, tak mau ketinggalan satu detik pun peristiwa yang menurutnya sakral itu. “Itu pasti kekuasaan Sang Hyang yang ditunjukkan untuk menegaskan keagungan-Nya” ucapnya dalam hati. Keingintahuan yang telah terpendam selama dua purnama menciptakan keteguhan dalam dirinya untuk turun bukit esok hari. Ketika asap itu hilang, ia kembali pada posisi duduk bersila, kedua tangannya diletakan di depan dada dan matanya dipejamkan. Hatinya melantunkan doa, berusaha mencapai kesatuan dengan Dewata.
            Embun dengan lembut turun dari puncak bukit melalui pucuk-pucuk pohon lalu jatuh di pelupuk mata. Ayam jago menyahuti panggilan fajar di timur. Sang petapa sadar bahwa pagi telah menggerayangi kampung, karena samar-samar terlihat orang-orang mulai melakukan kesehariannya. Yang lelaki bersiap pergi ke sawah atau ladang, sedangkan yang perempuan pergi ke pasar, sebagian mencari kayu bakar ke hutan atau sekadar menumbuk.
            Sang petapa berjalan dengan perlahan menyusuri jalan setapak yang basah oleh embun. Burung-burung sudah sibuk melayang mencari makan untuk anak-anaknya. Ada juga kalong yang kesiangan, terbang terbirit-birit mencari dahan untuk tidur. Jalan yang ia lalui cukup curam dengan batu yang licin oleh lumut. Dengan hati-hati ia melangkah sambil komat-kamit berdoa. Ketika kalangkang* sudah setengah badan, ia baru sampai di perkampungan.
            Semua rumah di perkampungan itu hampir memiliki keadaan yang sama; beratapkan rumbia, berdinding ayaman bambu. Tak ada yang berbeda dengan kampung lain, begitu sederhana. Entah kenapa setiap orang yang dilaluinya bermata sembab, seperti usai menangis. Mata laki-laki, perempuan, bocah maupun yang tua. Apa gerangan yang telah terjadi di sini?
            Sang petapa terus berjalan melewati perkampungan, lalu ke pasar. Ia tak berhenti di sana, karena sesuatu tak jauh dari pasar menarik perhatiannya. Sebuah rumah besar berdinding bata merah berdiri kokoh dengan halaman yang sangat luas. Pasti tuan rumah ini makmur adanya, katanya dalam hati. Rumah ini tak terlihat di atas bukit tempatnya bersemedi, karena bermacam pohon buah di halaman telah menutupinya. Tiba-tiba ia terkejut karena pundaknya ditepuk seseorang.
“Apa yang sedang Aki lakukan di sini? Jika Aki lapar mari ke rumah saya saja. Mari Ki!” kata seorang laki-laki, sedari tadi ia memperhatikan sang petapa berdiam di depan pagar rumah besar itu.
“Ah…tidak. Saya tidak lapar. Siapakah tuan dari rumah yang indah ini.” tanya sang petapa.
Sebelum menjawab, laki-laki itu memapah sang petapa sampai di rumahnya yang tak jauh dari sana. Lalu setelah duduk berdampingan di teras rumah, laki-laki itu mulai berkisah.
“Itu rumah milik Nyi Endit, tuan tanah sekaligus tengkulak di kampung ini. Setiap kami panen, Nyi Endit selalu memaksa kami untuk menjual hasil panen kepadanya. Kalau tidak, kami akan dihajar oleh centeng-centengnya. Ketika persediaan makanan kami berkurang, kami harus membelinya kepada Nyi Endit dengan harga yang berlipat. Bukankah itu kejam? Oleh karena itu kami selalu kekurangan. Tidakkah Aki lihat mata orang kampung? Setiap malam anak-anak menangis karena lapar, sang ibu yang tidak tega melihat anaknya pun ikut menangis, sedangkan si bapak hanya bisa berdoa kepada Sang Hyang sepanjang malam. Sungguh, tidak manusiawi.” Wajah laki-laki itu penuh amarah, tetapi sesaat kemudian kembali melunak karena sadar kalau di sampingnya ada seorang tamu. Di hadapan mereka telah terhidang beberapa makanan ringan.
“Silahkan, dimakan Ki! Kalau boleh tahu, Aki ini dari mana? Dan akan ke manakah tujuan Aki?” tuan rumah menjamu dengan tamunya.
“Aki hanya seorang tua yang tak punya tempat tujuan untuk pulang. Aki hanya melangkah mengikuti garis takdir Sang Hyang” jawabnya sederhana. Perbincangan terus berlangsung. Banyak cerita disampaikan laki-laki itu tentang Nyi Endit dan orang-orang kampungnya. Ternyata ia adalah kepala kampung tersebut.
            Dengan sigap sang petapa berdiri. Terlihat di wajahnya ada kepuasan karena pertanyaannya selama ini telah terjawab, tetapi ada ketidakpercayaan akan cerita tentang Nyi Endit yang kejam. Apakah benar ada manusia yang kelam seperti itu?
            Melihat tamunya akan pergi laki-laki itu merogoh sakunya. Kemudian menyerahkan beberapa uang kepadanya. Sang petapa menolaknya dengan bijak, karena ia tahu bahwa laki-laki baik yang sudah menjamunya pasti membutuhkan uang itu. Kemudian ia  mohon pamit.
            Ternyata sang petapa itu mendatangi kediaman Nyi Endit. Nyi Endit terperangah melihat seseorang masuk ke halamannya. Lalu didampingi centengnya, ia menghadang.
“Hai, pengemis tua! Apa yang kau lakukan di sini?” bentak Nyi Endit.
“Aki hanya ingin meminta sedikit sedekah untuk makan, Nyai.” katanya dengan sedikit lemas.
“Apa? Sedekah! Sudah pergi! Aku tak mau halamanku kotor oleh kakimu!” dengan kasar Nyi Endit mengusirnya. Dengan amarah, tangannya merebut tongkat yang dipegang si centeng, lalu dilemparkan ke arah sang petapa. Tongkat itu mengenai tubuh sang petapa. Sungguh benar adanya cerita laki-laki tadi. Wanita ini memang tak tahu adat. Diambilnya tongkat itu, diangkatnya tinggi-tinggi.
“Wahai, kau Nyi Endit! Sebelumnya aku tidak percaya dengan cerita yang kudengar mengenai peringaimu. Namun, sekarang aku sungguh-sungguh percaya bahwa kau bukan hanya tidak berbelaskasihan tetapi kau juga kejam! Tak berhati! Tidak tahukah kau bahwa orang-orang yang tinggal di sekitarmu itu menderita karena peringaimu. Setiap malam orang-orang kampung menangis karena lapar. Bahkan kau takkan bisa menampung airmata mereka dengan apa pun. Hanya Sang Hyang mampu menampungnya. Setiap purnama airmata itu berubah menjadi kabut yang membumbung ke langit. Ya…hanya luas langit yang bisa menampung airmata mereka.” kata sang petapa berapi-api.
“Kau pikir siapa dirimu, hai pengemis tua?” bentak Nyi Endit tak mau kalah, “Hei, kalian usir kakek tua ini!” ia memberi perintah kepada centeng-centeng. Namun, ceneng-centengnya terpaku menatap langit, karena tiba-tiba saja langit menjadi mendung dan gurilap* menghiasi. Suara guludug* mengelegar. Langit seperti mengetahui hati sang petapa yang penuh amarah.
“Sekarang kau akan tahu, berapa banyak airmata orang kampung yang telah jatuh karena dirimu! Kau akan merasakan karma dari ulahmu!” lanjut sang petapa yang menghilang sekejap. Disusul angin yang bertiup kencang. Beberapa pohonan yang tumbuh di halaman tumbang sebab tak kuat diterjang angin. Hujan turun dengan deras. Seperti air terjun yang jatuh menimpa batu. Rumah Nyi Endit sedikit demi sedikit porak-poranda. Nyi Endit merasakan ketakutan yang dasyat dalam dirinya. Kini centeng-centengnya pun tak bisa berbuat apa-apa. Dengan panik Nyi Endit masuk ke dalam rumah untuk menyelamatkan perhiasan yang disimpan di kamar dan beberapa harta benda berharga lainnya. Ketika ke luar rumah, Nyi Endit tak melihat centeng-centengnya. “Mereka pasti kabur. Dasar kecoa penakut!” ia berlari hendak menyelamatkan diri.  Namun air hujan yang begitu deras telah menciptakan air bah yang makin deras dan tinggi. Bagai sebuah tanggul yang hancur, air menyapu rumah dan menghempas tubuh Nyi Endit. Ia tergulung air dan tenggelam. Sang Hyang adalah Maha Kuasa. Dengan kuasa-Nya, Ia tampung airmata para bocah dan perempuan yang mengabut bersama doa-doa pasrah di langit. Dan hari ini Ia menunjukkan keagungan-Nya dengan menurunkannya bersama hujan.
                                   

Rumah kedua, Juli 2009


* Cipanon :  airmata
 Tonggeret : serangga yang berbunyi nyaring
 Kalangkang : bayangan
 Gurilap : kilat; guluduk : halilintar